Sebanyak 42 situs sejarah peninggalan Kerajaan Siak didentifikasi di Pekanbaru, diantaranya yakni Komplek Makam Marhum Pekan yang berada di kompleks
Masjid Raya Pekanbaru.
Kemudian kata peneliti lagi, yakni makam pendiri Pekanbaru beserta
kerabat Kerajaan Siak abad ke-18 dan Tapak awal Masjid Nur Alam Jalan Masjid
Raya Pekanbaru.
Situs lainnya yakni Makam Datuk Tanah Datar, Makam Datuk
Bandar Abdul Jalil Gubernur Provinsi Negeri Pekanbaru Kerajaan Siak, Rumah Tuan
Qadi Sultan Siak H Zakaria bin Abu Bakar di Jalan Perdagangan, Jembatan
Penyeberangan ke Tapak Jembatan Phontoon Caltex yang berfungsi sebagai buka
tutup jembatan, serta Terminal tertua di Pekanbaru.
Selanjutnya yakni sumur tua Masjid Nur Alam yakni sumur yang
dibangun bersamaan dengan Mesjid Nur Alam, dan mimbar Masjid Raya Pekanbaru
yang merupakan salah satu dari empat mimbar masjid yang dibuat semasa Kerajaan
Siak dengan keterangan tulisan Arab Melayu di bagian atasnya.
Kemudian ada juga sebuah gerbang Masjid Raya Pekanbaru
dibangun pada tahun 1940, tiang enam Masjid Raya Pekanbaru yang merupakan
simbol Empat Datuk Kerajaan Siak dan dua imam dan qadi,”
katanya.
Adapun situs sejarah lainnya, yakni rumah keluarga H Yahya
yang dibangun sejak tahun 1898, Rumah Honolulu di Jalan Senapelan, Surau
Irhash, tapak sejarah markas besar pejuang tentara Fisabilillah pada zaman
perang kemerdekaan, rumah Tuan Qadi Sultan Siak H Zakaria bin Abu Bakar di
Jalan Senapelan, rumah tempat pembentukan Serikat Dagang Islam Cabang dan
Koperasi Serikat Islam Kerajaan Siak, dan Makam Imam H M Taher yang merupakan
imam Districkholf Kerajaan Siak.
Lalu ada lagi yakni makam perintis Kemerdekaan Indonesia
asal Riau H M Amin yang juga pendiri Serikat Dagang Islam 1916 dan Koperasi
Serikat Islam Cabang Kerajaan Siak di Pekanbaru 1917 serta sejumlah situs
sejarah peninggalan Kerajan Siak lainnya,” kata dia.
Seluruh situs sejarah tersebut kata dia, kemudian dikirimkan
oleh tim ke Batusangkar, Sumatra Barat, untuk ditetapkan sebagai benda cagar
budaya yang sah dan diakui secara nasional.
Dia mengatakan, pihaknya bersama tim sebelumnya juga telah
melakukan berbagai upaya untuk “mencium” adanya sejumlah situs sejarah
tersebut.
Dengan pengakuan resmi situs sejarah ini, demikian Irasman,
diharapkan akan lebih memperkenalkan peninggalan Kerajaan Siak di Pekanbaru ini
secara nasional maupun internasional.
Selama ini benda cagar budaya yang diduga situs sejarah
peninggalan kerajaan Siak dibiarkan dan tidak diurus. Makanya untuk mengenang
kembali peninggalan kerajaan Siak ini, kami memutuskan untuk melakukan
penggalian dan menghak patenkannya,” katanya.
Adapun situs sejarah lainnya, yakni rumah keluarga H Yahya
yang dibangun sejak tahun 1898, Rumah Honolulu di Jalan Senapelan, Surau
Irhash, tapak sejarah markas besar pejuang tentara Fisabilillah pada zaman
perang kemerdekaan, rumah Tuan Qadi Sultan Siak H Zakaria bin Abu Bakar di
Jalan Senapelan, rumah tempat pembentukan Serikat Dagang Islam Cabang dan
Koperasi Serikat Islam Kerajaan Siak, dan Makam Imam H M Taher yang merupakan
imam Districkholf Kerajaan Siak.
Lalu ada lagi yakni makam perintis Kemerdekaan Indonesia
asal Riau H M Amin yang juga pendiri Serikat Dagang Islam 1916 dan Koperasi
Serikat Islam Cabang Kerajaan Siak di Pekanbaru 1917 serta sejumlah situs
sejarah peninggalan Kerajan Siak lainnya,” kata dia.
Gambar: Empat Datuk Kerajaan Siak bersatu dalam foto dengan Sultan Siak.






