hello

Thursday, 14 May 2026

SEJARAH TIGA LARAS ALAM MINANGKABAU DAN KAITANNYA DENGAN DATUK PESISIR DI PANTAI BARAT DAN TIMIUR SUMATERA

Tahukah anda bahwa teori dua Laras di alam Minangkabau itu salah? Ternyata di Alam Minangkabau ada 3 (tiga Laras) atau tiga cabang adat/teori pembentukan adat yakni:
1.Laras Datuk Ketemanggungan
2.Laras Datuk Perpatih
3.Laras Datuk Suri Banegoneho (Laras Nan Panjang)
Gambar: Ibrahim Datuk Sangguno Dirajo penyusun pertama buku Tambo Alam Minangkabau.

Kali ini kita akan membahas sejarah Datuk Suri Banegoneho, cakupan wilayah adatnya, dan ternyata Datuk Suri Banegonego terkait erat dengan Datuk Pesisir yang sejarah pembentukan mempunyai wilayah adat yang panjang menembus gunung dan lautan, mulai dari pesisir barat Sumatera hingga ke pesisir timur Sumatera.

 Datuk Suri Nan Banego-nego (disebut juga Datuk Sikalab Dunia Nan Banego-nego atau Datuk Maharajo Nan Banego-nego). Beliau adalah tokoh legendaris dalam Tambo adat Minangkabau yang bertindak sebagai perancang hukum adat dan pendiri Kelarasan (Wilayah Adat) Lareh nan Panjang
Kedudukan dan sejarah mengenai beliau dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Hubungan Silsilah (Keluarga)
Dalam struktur silsilah adat (Tambo), Datuk Suri Nan Banego-nego merupakan bagian dari tiga serangkai peletak dasar tatanan masyarakat. Beliau adalah adik kandung dari Datuk Perpatih Nan Sabatang (pendiri kelarasan Bodi Caniago) dan juga bersaudara satu ibu dengan Datuk Ketumanggungan (pendiri kelarasan Koto Piliang).
2. Pendiri Kelarasan Lareh Nan Panjang
Jika Datuk Ketumanggungan mendirikan sistem aristokratis (Koto Piliang) dan Datuk Perpatih mendirikan sistem demokratis (Bodi Caniago), maka Datuk Suri Nan Banego-nego menyusun sistem alternatif bernama Lareh Nan Panjang. Kelarasan ini memiliki pepatah adat yang berbunyi: "Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah". Artinya, sistem adat yang dia pimpin berada di tengah-tengah; mengambil sebagian aturan adat Koto Piliang dan sebagian aturan Bodi Caniago. 
3. Peran dalam Hukum Adat
Bersama dengan Datuk Suri Dirajo, Datuk Suri Nan Banego-nego bertindak sebagai badan perancang, pemikir, dan penasihat undang-undang. Dialah salah satu tokoh yang ikut merumuskan perubahan dari hukum adat lama (hukum kekerasan/Simumbang Jatuh) menjadi hukum adat baru Minangkabau yang berlandaskan musyawarah, mufakat, serta keadilan.
Hubungan dengan Wilayah Kampar (Riau)
Mengingat wilayah Kampar, Riau memiliki kedekatan historis yang sangat erat dengan kebudayaan Minangkabau (banyak persukuan adat Kampar seperti Domo, Pitopang, Melayu, dsb. yang berakar dari sana), struktur adat dan nama tokoh legendaris seperti Datuk Banego-nego ini juga kerap dibawa, dihormati, dan diadaptasi ke dalam silsilah maupun tambo adat di berbagai Kenegerian di Kampar. 

Siapakah Datuak Suri Dirajo sebenarnya? Ternyata dia memiliki darah Tiga Dinasti Utama di Pulau Andalas sekaligus yaitu trah Gunung Marapi dari ibunya yang bernama Puti Sari Puti (bertahta di Kalakati, Gunung Marapi), trah Malayu Tapi Air dari bapaknya yaitu Datuak Sari Maharajo, yang merupakan adik dari Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa (Maharaja Dhammasraya), dan trah Bukit Seguntang Ranjani dari kakeknya (ayah dari ibunya) yaitu Rajo Roman Tungga Dewa yang merupakan putra dari Samara Vijayatunggavarman, tokoh kunci yang menghubungkan Sriwijaya dengan Minangkabau. Datuak Suri Dirajo hidup tiga generasi setelah peristiwa serangan Chola pada 1025 M yang menyebabkan kakek buyutnya mengungsi ke Minangkabau, artinya masa hidupnya diperkirakan pada sekitaran 1275 -1350 M. Dia juga merupakan mentor politik bagi 3 kemenakannya yang menjadi pendiri Sistem Ketatanegaraan Minangkabau, yaitu Datuak Katumanggungan, Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Sari Maharajo Nan Banego Nego.

Kitab Salasih Raja Minangkabau (KSRM) menjelaskan :
Fragmen dalam KSRM menyatakan sebagai berikut:

Adolah maso bardukalo hari: Siguntang-guntang Bukik Ranjani

Tidak Siguntang di Gunuang Marapi, nagarinyo gadang kuat sakali

Nagari Siguntang mahadang parang: Kualo Batanghari capek disarang

Malayu Tapi Aia taguncang-guncang, mananglah nagari Bukik Siguntang


Rajo Siguntang jan Rajo Puti, baratuih tahun tabantang tali

Duduak di Bukik Kualo Ranjani, kudian di Kualo Batanghari

Duduak di Kualo Batanghari: Malayu Tapi Aia Nagari Jambi

Namo nan mahsyur ka panjuru bumi: Siguntang-guntang gagah barani


Adopun rajo nan alah nangko: Malayu Tapi Aia nagarinyo

Kualo Batanghari karajaannyo, ka Hulu Batanghari paciknyo

Rajo pai mambukak nagari: Tigo Lareh nagari badiri

Di Siluluak Punai Mati: limo ratuih babuhua tali


Tali babuhua kito baco, dirantang Datuak Suri Dirajo

Datuak budiman nan candokio, mamak dek datuak nan batigo

Secara spesifik fragmen di atas memberitakan berdirinya kembali Kerajaan Malayu pada 1183 setelah 500 tahun sebelumnya ditaklukkan Sriwijaya dan dirampas ibukotanya. Fragmen ini juga menjadi jawaban kebingungan selama ini tentang lokasi ibukota Sriwijaya saat invasi Chola. Nyatanya, Kuala Batanghari (wilayah Muaro Jambi saat ini) telah menjadi ibukota Sriwijaya sejak tahun 682 M, sebagai rampasan perang mereka yang paling berharga. Wilayah Sumatera Selatan yang disebut sebagai Bukik Kualo Ranjani adalah ibukota lama Sriwijaya yang ditinggalkan, dan mungkin digunakan sebagai tempat peribadatan atau pendidikan Agama Buddha saja. 

2. SEJARAH PENAMAAN DATUK PESISIR DI PANTAI BARAT SUMATERA

Berikut adalah sejarah dan penamaan wilayah Pesisir di Rantau Minangkabau Barat: Asal Mula Wilayah (Rantau Pasisia Panjang): Pada abad ke-11 hingga ke-14, penduduk dari kawasan inti Minangkabau (seperti Luhak Tanah Datar dan Agam) menyusuri sungai-sungai menuju hilir ke arah pantai barat Sumatra. Mereka membuka perkampungan di sepanjang pesisir dan teluk untuk mencari hasil hutan dan kayu.Awal Penamaan: Kawasan yang membentang di pesisir barat ini secara kultural dikenal sebagai Rantau Pasisia Panjang, meliputi wilayah dari Tiku, Pariaman, Padang, hingga ke Inderapura (Pesisir Selatan).Asal Usul Nama Pesisir Selatan: Nama "Pesisir Selatan" memiliki sejarah dari masa kolonial Belanda. Daerah ini dahulu disebut sebagai afdeling zuid beneden landen yang berarti "dataran rendah bagian selatan".Karakteristik Budaya Pesisir (Piaman Laweh): Karena berbatasan langsung dengan laut dan menjadi pusat perdagangan, wilayah Pesisir memiliki budaya kosmopolitan dan dinamis. Kawasan pesisir utara terkenal dengan sebutan Rantau Tiku Pariaman atau Piaman Laweh, yang pada masa lampau memainkan peranan penting dalam lalu lintas rempah dunia.

Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

0 comments:

Post a Comment