Jejak Sejarah yang Mengejutkan: Orang Minang Sudah Merantau ke Jakarta Sejak Abad ke-16
Budaya merantau etnis Minangkabau atau Urang Awak ternyata memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dari yang dibayangkan banyak orang. Bukan sekadar fenomena modern, jejak perantau Minang di Jakarta (dulu Betawi) sudah terekam sejak tahun 1521, atau awal abad ke-16.
Kedatangan Kasim: Sang Syahbandar dari Pagaruyung
Menurut mendiang budayawan Betawi, Ridwan Saidi, sosok Minang pertama yang tercatat menginjakkan kaki di Betawi adalah seorang pria bernama Kasim. Ia bukan orang sembarangan, melainkan Syahbandar Pelabuhan Malaka yang menjadi utusan dalam perjanjian antara Portugis dan Kerajaan Sunda.
Kasim dikenal sebagai sosok jagoan, sehingga penduduk setempat memberinya julukan "Wa Item". Karena jasa dan kedudukannya, Kasim beserta pengikutnya diberikan tempat tinggal di Betawi, yang menjadi titik awal terbentuknya komunitas Minang di tanah Jawara.
Asal-usul "Onde-onde" dan "Ondel-ondel"
Salah satu fakta unik yang diungkapkan Ridwan Saidi adalah pengaruh bahasa Minang terhadap ikon budaya Betawi. Para pengikut Kasim sering mengucapkan kata "Onde!" untuk mengekspresikan kekaguman.
Onde-onde: Kue tepung beras berisi gula jawa ini dinamakan demikian karena terinspirasi dari kata "Onde" yang berarti mengagumkan.
Ondel-ondel: Patung raksasa ikon Jakarta ini pun disebut-sebut mendapat pengaruh dari dialek Minang tersebut. Kata "Onde" yang ditambah akhiran "L" dalam dialek Betawi bermakna "sesuatu yang mengagumkan".
Kontribusi Literasi: Dari M. Yamin hingga Si Doel
Memasuki abad ke-19 dan ke-20, perantau Minang di Batavia mulai mendominasi sektor pendidikan dan sastra. Tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Yamin merupakan lulusan sekolah tinggi di Batavia.
Salah satu kontribusi sastra yang paling melegenda adalah novel "Si Doel Anak Jakarta". Menariknya, karya yang dianggap sebagai representasi terbaik kehidupan Betawi ini justru lahir dari tangan seorang guru asal Minangkabau bernama Aman Datuk Madjoindo.
Gelombang Pedagang dan Harmoni Tanpa Gesekan
Pasca-peristiwa PRRI, gelombang perantauan Minang ke Jakarta semakin masif, terutama di sektor perdagangan kaki lima. Pada tahun 1964-1965, mulai muncul restoran Padang pertama yang kemudian menjamur ke seantero kota.
Ridwan Saidi mencatat bahwa selama berabad-abad berdampingan, tidak pernah terjadi gesekan sosial antara perantau Minang dan orang Betawi. Harmoni ini terus terjaga hingga kini, di mana ratusan ribu Urang Awak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi peradaban Jakarta.
Sumber: KataSumbar - Ternyata Orang Minang Sudah Merantau ke Jakarta Sejak Abad 16 (Berdasarkan penuturan Ridwan Saidi).





