Sri Bintang Pamungkas: Sang Orator Berani yang Mengguncang Rezim Orde Baru
Dalam sejarah pergerakan Indonesia, sedikit tokoh yang berani berdiri tegak menantang kekuasaan otoriter dengan suara lantang dan hati nurani yang tak terbeli. Sri Bintang Pamungkas adalah salah satunya — seorang reformis, aktivis, politikus, dan orator ulung yang namanya melekat sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto. Dengan keteguhan yang seringkali berujung pada penjara, ia menjadi salah satu suara yang mempercepat runtuhnya Orde Baru.
Sri Bintang Pamungkas Pandjaitan lahir pada 25 Juni 1945 di Tulungagung, Jawa Timur, dari keluarga sederhana. Ayahnya, Moenadji Soerjohadikoesoemo Pandjaitan, seorang hakim yang wafat di masa Peristiwa Madiun, dan ibunya Soekartinah Soerjohadikoesoemo Pandjaitan, seorang ibu rumah tangga. Ia adalah adik dari ekonom terkenal Sri Edi Swasono.
Pendidikan formalnya dimulai di SMA Negeri 1 Surakarta dan lulus pada 1964. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga lulus tahun 1971. Cita-citanya menjadi insinyur pembuat pesawat terbang belum dapat terwujud karena keterbatasan industri nasional saat itu. Ia kemudian bekerja di pabrik perakitan motor Astra serta menjadi dosen dan konsultan di Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Rasa haus ilmu membawanya ke luar negeri. Pada 1979, Sri Bintang meraih gelar Master of Science in Industrial System Engineering dari University of Southern California. Kemudian pada 1984, ia menyelesaikan studi doktor bidang ekonomi melalui program yang melibatkan Georgia Institute of Technology dan Iowa State University hingga memperoleh gelar PhD. Selama masa akademiknya, ia juga aktif menulis buku, salah satunya Getaran Mekanis pada tahun 1975.
Karier politik Sri Bintang melejit pada era Orde Baru. Ia pernah menjadi anggota DPR-RI dari Fraksi PPP, namun di-recall pada 1995 akibat sikap kritisnya terhadap pemerintah. Puncak keberaniannya terlihat ketika mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) pada Mei 1996 — sebuah partai oposisi yang langsung dianggap ancaman oleh rezim.
Akibat aktivitas politiknya, Sri Bintang ditahan dengan tuduhan makar berdasarkan Undang-Undang Anti-Subversif. Ia mendekam di penjara selama lebih dari satu tahun menjelang runtuhnya pemerintahan Soeharto. Setelah B.J. Habibie menjadi presiden, ia dibebaskan dan namanya dipulihkan oleh pengadilan pada tahun 2000.
Sebagai orator, Sri Bintang dikenal memiliki pidato yang tajam dan membakar semangat massa. Ceramah-ceramahnya di masa reformasi mampu menggugah ribuan orang untuk berani bersuara melawan ketidakadilan dan memperjuangkan demokrasi yang lebih terbuka.
Pasca-Orde Baru, Sri Bintang tetap aktif sebagai tokoh pergerakan. Ia terus mengkritisi berbagai rezim, terlibat dalam isu demokrasi, hak asasi manusia, dan tata kelola negara. Bahkan pada 2016, ia kembali terseret kasus tuduhan makar, namun tetap konsisten menyuarakan reformasi sejati dan pentingnya kembali pada semangat asli UUD 1945.
Kini, di usia 80 tahun, Sri Bintang Pamungkas masih tampil sebagai suara kritis bangsa. Ia aktif dalam diskusi publik, media sosial, dan berbagai forum kebangsaan untuk mengingatkan generasi muda tentang pentingnya keberanian sipil dan integritas dalam kehidupan bernegara.





