Profesionalisme guru kembali dipertanyakan di Riau. Seorang Siswa Tewas pada acara praktikum pembuatan senjata api di sebuah sekolah SMP di Siak, Provinsi Riau.
Apakah seorang guru yang adalah pemimpin/perwakilan negara di lembaga yang bernama sekolah mengajarkan anak muridnya budaya penggunaan senjata?
Apakah seorang anak harus menjadi korban kehidupan orang dewasa yang di dunia sekarang mengandalkan senjata?
Apakah seorang anak harus menjadi korban kelalaian orangtuanya di sekolah yang sibuk dengan urusan non pendidikan?
Dunia pendidikan tengah berduka menyusul insiden fatal yang terjadi di SMP Sains Tahfizh Islamic Center, Kabupaten Siak, Riau, pada Rabu (8/4). Seorang siswa dilaporkan meninggal dunia setelah senjata rakitan hasil cetakan 3D buatannya meledak saat sedang diujikan. Peristiwa tragis ini berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB di aula sekolah, tepat ketika korban tengah mempresentasikan karya tersebut sebagai bagian dari ujian praktik mata pelajaran IPA.
Sesaat sebelum kejadian, korban sebenarnya sudah menunjukkan sikap waspada dengan meminta rekan-rekannya untuk menjaga jarak aman. Namun, malapetaka tetap tidak terhindarkan; ketika senjata rakitan tersebut dioperasikan, alat itu justru meledak dan menyebabkan luka yang sangat parah. Meski sempat diupayakan pertolongan, nyawa pelajar tersebut tidak berhasil diselamatkan akibat fatalnya dampak ledakan yang terjadi di lokasi.





